
sumber : kumparan.com
Jayapura, BUMIPAPUA.COM – Festival Noken ke-6 yang digelar mulai hari ini juga menarik perhatian generasi muda Papua. Ketua Asosiasi Perfilman Kota Jayapura sekaligus Ketua Harian Generasi Pesona Indonesia (Genpi Papua) Henry Muabuay mengatakan, Festival Noken ini menjadi salah satu ajang untuk memperkenalkan budaya asli Papua pada generasi muda.
Festival Noken ini sebagai salah satu wadah memperkenalkan Noken kepada masyarakat luas. Kegiatan ini menyasar masyarakat dan wisatawan untuk datang menikmati berbagai gelaran atraksi budaya dan eksebisi khas masyarakat Papua. Harapannya, warga bisa memahami bahwa Noken tak sekadar aksesoris sebagai tas khas Papua, tapi juga identitas asli masyarakat Papua.
Seperti diketahui, UNESCO sudah mengakui Noken sebagai warisan budaya tak benda sejak 4 Desember 2012 silam. Pengakuan ini sekaligus menjadi titik balik kekayaan intelektual Papua. Sebab, Noken dimiliki oleh sekitar 250 suku bangsa yang ada di Papua dan Papua Barat.
“Kami tahu Noken yang merupakan tas rajutan khas itu budaya asli Papua. Meski memang sempat alot, tapi kami bersyukur festival ini bisa digelar dengan lancar. Ini juga bisa menjadi ajang untuk lebih mengenal budaya Papua asli,” kata Henry, Selasa (4/12).
Festival ini menarik perhatian beberapa komunitas di Papua seperti Pilot Drone, Asosiasi Perfilman Papua dan Komunitas Diving. Keterlibatan mereka semua secara sukarela yang diiringi dengan keinginan mempromosikan kebudayaan khas Papua. “Semua komunitas yang terlibat ini secara sukarela karena kecintaan pada budaya Papua dan keinginan untuk melestarikan adat istiadat,” ujarnya.
Festival Noken ke-6 ini akan digelar selama dua hari, yakni 4-5 Desember 2018. Dalam dua hari ini, berbagai kegiatan akan digelar, mulai dari pentas kesenian, eksebisi, nonton film, serta atraksi pembuatan Noken.

Noken, Butuh Bantuan Pemerintah
Ketua Asosiasi Pengrajin Noken Papua, Mama Mery mengatakan, Festival Noken ini menjadi salah satu ajang bagi para perajin untuk mempromosikan Noken khas Papua.
Dalam festival ini masyarakat bisa mendapatkan berbagai jenis Noken dengan harga terjangkau.”Untuk Festival ini kita turunkan harga karena momen spesial. Biasanya Rp300 ribu jadi Rp200 ribu. Itu noken dari kulit kayu,” kata Mery.
Dalam kesempatan ini, Mery juga meminta agar pemerintah setempat lebih memperhatikan nasib pengrajin Noken. Menurutnya, sudah saatnya noken mendapat tempat yang sejajar dengan kerajinan khas daerah lain. Selama ini, ia melihat masih banyak perajin noken yang menjajakan jualan di pinggir jalan.
“Harapan saya ke depan ke pemerintah saya minta ada pasar yang layak. Mengingat Noken sudah diakui oleh Dunia jadi saatnya Pemerintah menjadikan ini juga sebagai objek wisata,” ujarnya.
Noken, Salah Satu Daya Tarik Papua
Kementerian Pariwisata memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan Festival Noken ke-6 ini. Kasubdit IV Wilayah 3 Maluku-Papua Kementrian Pariwisata (Kemenpar), Budi Sarjono mengatakan, Festival Noken merupakan salah satu acara yang mampu menarik berbagai wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.
“Kementerian pariwisata menyambut baik dan mendukung adanya festival noken ini. Tentu saja menjadi salah satu acara yang menarik dan unik. Kami harap tetap bisa dilaksanakan setiap tahun. Kami akan suporrt terus,” kata Budi saat ditemui di lokasi acara.
Dikatakan Budi, Noken merupakan salah satu kerajinan dan budaya khas yang harus terus dilestarikan. Menanggapi banyaknya perajin noken yang masih menjajakan dagangan di pinggir jalan, Budi mengaku akan mencoba berkomunikasi dengan pemerintah daerah agar memberikan dukungan penuh.
“Untuk itu akan kami coba komunikasikan dengan Pemerintah Daerah karena saat ini ada otonomi. Tapi kami pastikan terus mendukung kerajinan ini agar tetap menjadi identitas Papua,” ujarnya.
Meski begitu, Kemenpar juga berharap ada evaluasi terhadap penyelenggaraan Festival Noken ini. Ia juga berharap, semakin banyak perajin yang menciptakan inovasi pada kerajinan khas Papua, sehingga bisa menyesuaikan dengan kondisi pasar saat ini.