BERAGAM KEBUDAYAAN PULAU PAPUA

Papua adalah sebuah provinsi yang terletak di paling timur Indonesia. Provinsi ini merupakan provinsi yang masih kental dan kaya akan kesenian dan kebudayaan yang ada di provinsi tersebut, provinsi ini memiliki berbagai suku seperti suku asmat yang mendiamin provinsi tersebut, dengan masyarakat yang sangat menjunjung tinggi kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah mereka. Kesenian dan kebudayaan yang ada di daerah ini sangat menarik, dan unik.Kesenian dan Kebudayaan PapuaPapua memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya, kesenian dan kebudayaan tersebut sangat unik dan menarik. Berikut beberapa kesenian dan kebudayaan yang ada di Papua :BahasaTerdapat ratusan bahasa daerah yang berkembang pada kelompok etnik yang ada di Papua. Aneka Berbagai bahasa ini menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi antara satu kelompok etnik dengan kelompok etnik lainya. Oleh sebab itu, Bahasa Indonesia digunakan secara resmi oleh masyarakat-masyarakat di Papua bahkan hingga ke pedalaman. Namun ada masyarakat yang tidak mengerti bahasa Indonesia karena minimnya pendidikan yang ada di PapuaPakaian Tradisional

Pakaian adat Papua untuk pria dan wanita hampir sama bentuknya. Pakaian adat itu memakai hiasan-hiasan seperti hiasan kepala berupa bentuk burung cendrawasih, gelang, kalung, dan ikat pinggang dari manik-manik, serta rumbai-rumbai pada pergelangan kaki. Namun ada juga masyarakat suku pedalaman Papua yang hanya menggunakan koteka dalam membalut tubuhnyaRumah Adat

Rumah Honai terbuat dari kayu dengan atap berbentukkerucut yang terbuat darijerami. Honai sengaja dibangun sempit atau kecil dan tidak berjendela yang bertujuan untuk menahan hawa dingin pegunungan Papua. Honai dibangun setinggi 2,5 meter dan pada bagian tengah rumah disiapkan tempat untuk membuat api unggun untuk menghangatkan diri.Rumah Honai biasa ditinggali oleh 5 hingga 10 orang. Umumnya rumah Honai terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari lantai pertama untuk tempat tidur sedangkan lantai kedua digunakan sebagai tempat untuk bersantai, makan, serta untuk mengerjakan kerajinan tangan.Tari Tradisional1. Tari Musyoh

Tari Musyoh adalah tari tradisional Papua yang merupakan tarian sakral suku adat yang ada di Papua yang bertujuan untuk menenangkan arwah suku adat papua yang meninggal karena kecelakaan. Suku adat Papua tersebut mempercayai bahwa apabila ada yang meninggal karena kecelakaan, maka arwahnya tidak tenang, sehingga dilakukanlah tarian skral ini (Tari Musyoh) untuk menenangkan arwah orang yang kecelakaan tersebut. Tari tradisional Musyoh ini diiringi oleh alat musik tradisional Papua yaitu Tifa. Alat musik Tifa ini juga digunakan pada beberapa tarian dari Suku Adat Papua lainnya.2. Tari Sajojo

Tari Sajojo adalah merupakan tarian pergaulan berbagai suku adat di Papua. Tarian ini sudah cukup terkenal sebagai tarian penyambut tamu yang sering dipertunjukan dalam acara penyambutan tamu maupun acara lainnya. Para penari sajojo menari dengan cara melompat dan menghentak-hentakkan kakinya. Berbagai alat musik tradisional Papua seperti tifa juga dipergunakan untuk mengiringi tari sajojo ini.Tari Sajojo ini mulai terkenal sekitar tahun 1990an. Bahkan sejak saat itu, tarian ini banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tarian yang dinamis ini memang bisa dilakukan oleh semua orang. Dalam perkembangannya musik pengiring tari sajojo ini makin berkembang bahkan diantaranya sudah menggunakan musik modern yang banyak dikenal masyarakat. Tarian ini kerap diiringi lagu daerah Papua, Sajojo. Lagu Sajojo ini menceritakan tentang gadis cantik papua yang menjadi idola di kampungnya.
3. Tari Yospan

Tari Yospan merupakan tarian pergaulan muda-mudi di Papua. Tarian ini muncul sekitar tahun 1960 dan bahkan pernah populer dan dipergunakan sebagai gerak pada senam kesehatan jasmani.Kata Yospan sendiri merupakan akronim dari Yosim Pancar yang merupakan nama tarian tersendiri. Tari yospan ini memang merupakan penggabungan dari 2 tarian tradisional suku Papua. Yosim merupakan tarian dari daerah Teluk Sairei, sedangkan tari Pancar berasal dari daerah Biak, Numfor dan Manokwari.Tarian Yospan ini biasanya dilakukan oleh 2 Grup terdiri dari grup penari dan musisi. Alat musik pengiring tarian yospan antara lain tifa, gitar, ukulele dan bas bersenar 3. Tidak ada patokan khusus pada Pakaian yang dikenakan penari dan musisi dalam tarian yospan. Setiap grup Yospan memiliki pakaian tersendiri namun masih mencirikan pakaian Papua.

Senjata Tradisional

Papua memiliki senjata tradisional yang digunakan untuk melawan musuh. Seperti pisau belati papua yang terbuat dari tulang kaki burung kasuari dan bulu burung tersebut yang menghiasi pinggiran belati tersebut. Namun ada senjata lain yang biasanya di gunakan yaitu busur dan panah serta lembing yang digunakan untuk berburu

Makanan Khas1. Papeda

Makanan khas papua yaitu sagu yang di buat jadi bubur atau yang dikenal dengan nama papeda. Masyarakat papua biasanya menyantap papeda bersama kuah kuning, yang terbuat dari ikan tongkol atau ikan mubara dan di bumbui kunyit dan jeruk nipis. 

2. Sate Ulat Sagu

Salah satu makanan khas Papua lainnya adalah Sate Ulat Sagu. Jenis makanan ini bagi kita mungkin akan membuat mual bahkan muntah. Ulat Sagu ini didapatkan dari batang pohon sagu yang sudah tua. Masyrakat asli papua yang telah terbiasa hidup di alamseringkali mwngkonsumsi ulat sagu diolah terlebih dahulu. Namun sekarang ulat sagu ini sudah diolah dengan cara dibakar hingga hampir mirip dengan sate. Lebih tepatnya sate ulat sagu ini adalah makanan khas Raja Ampat.
3. Ikan Bungkus

Ikan bungkus khas papua ini dibuat dari dua bahan yaitu ikan laut dan daun talas sebagai bahan untuk membungkusnya. Bumbu khasnya rempah yang digunakan pun hanya garam untuk memberikan rasa asin dan untuk menghilangkan getah pada daun talas yang digunakan. Bahan dan bumbunya sedikit dan cara membuatnya pun sangat sederhana dan mudah. Dalam pembuatanya pertama bersihkan ikan kemudian dimasukkan kedalam daun talas dan ditutup. terakhir dibakar diatas api kecil hingga masak. Kalau sudah masak ya diangkat dan langsung disajikan saat hangat.Alat Musik
Papua memiliki banyak alat musik tradisional salah satunya yaitu tifa. Tifa merupakan salah satu alat musik pukul yang bentuknya hampir mirip dengan gendang. Alat musik tifa terbuat dari kayu yang mana pada bagian tengah kayu tersebut dibuat lubang besar yang dibersihkan. Lalu diujung salah satu kayu tersebut ditutup dengan menggunakan kulit rusa yang telah dikeringkan yang berfungsi agar alat musik tifa ini bisa menghasilkan suara yang indah dan bagus.Kerajinan Tangan Masyarakat papua biasanya membuat kerajinan tangan yang di buat dari bahan-bahan yang tersedia dialam. Seperti kerajinan tas yang bernama Noken. Kerajinan ini di buat dari kulit kayu yang di anyam, dan warna yang diguanakan berasal dari pewarna alami akar tumbuhan dan buah-buahan. Noken ini biasa di gunakan dan di bawah dengan menyangkutkan noken di atas kepala.4 Tradisi Unik Di Papua Yang Jarang Diketahui di bawah ini.1. Tradisi Bakar Batu
Tradisi Bakar Batu (Barapen)Salah satu tradisi budaya tertua di Papua ini, dapat dikatakan sebagai simbol rasa syukur dan persaudaraan, akan tetapi di daerah tertentu Bakar batu biasanya juga dilakukan dalam prosesi upacara kematian. Tradisi Bakar Batu merupakan sebuah cara yang digunakan masyarakat Papua, untuk memasak beberapa jenis bahan makanan (Ubi, Singkong, daging Babi dan sayur-sayuran) di atas batu yang telah dipanaskan. Caranya pun tak sembarangan, ada beberapa tahapan untuk melakukan Bakar Batu, diantaranya adalah menyiapkan lubang untuk tempat menyusun kayu bakar dan batu, beserta bahan makanan yang akan dimasak. Setelah lubang tergali, batu-batu yang telah dikumpulkan disusun berdasarkan ukuran.Batu yang besar di letakkan pada bagian paling bawah, dan di bagian atas akan disusun kayu bakar. Selanjutnya lapisan kayu bakar tersebut akan dilapisi kembali dengan batu yang ukurannya lebih kecil, setelah itu proses pembakaran dilakukan untuk memanaskan batu. Setelah batu menjadi panas, barulah bahan makanan yang telah disiapkan disusun sedemikian rupa diatas batu tersebut. Lalu setelah semua bahan makanan tersebut matang, maka dilakukan kegiatan makan bersama. Tradisi Bakar Batu ini, memiliki beberapa sebutan (nama) yang berbeda untuk masing-masing daerah, namun biasanya dikenal dengan sebutan Barapen.



2.  Tradisi Potong Jari Suku Dani

Tradisi Potong Jari

Banyak cara menunjukkan rasa berduka cita bila ditinggalkan anggota keluarga yang meninggal dunia. Namun, untuk suku Dani yang mendiami wilayah Lembah Baliem, di Papua rasa sedih dan duka cita diwujudkan dengan memotong jari, bila terdapat anggota keluarga seperti suami/istri, ayah, ibu, anak dan adik. Tradisi yang wajib dilakukan ini, menurut mereka adalah sebagai simbol dari kesedihan yang teramat dalam seseorang yang kehilangan anggota keluarganya, selain itu potong jari diartikan pula untuk mencegah kembali malapetaka yang menyebabkan kematian dalam keluarga tersebut. Tradisi potong jari ini dilakukan dengan berbagai banyak cara, mulai dari menggunakan benda tajam seperti pisau, kapak, atau parang. Cara lain yang digunakan adalah dengan menggigit ruas jarinya hingga putus, mengikatnya dengan seutas tali sehingga aliran darahnya terhenti dan ruas jari menjadi mati kemudian baru dilakukan pemotongan jari.3. Tradisi Ararem Suku Biak



Tradisi unik lainnya di Papua adalah Ararem, yaitu prosesi mengantar mas kawin oleh suku Biak. Dalam prosesi ini, mas kawin akan diantarkan dengan berjalan kaki, disertai nyanyian dan tarian. Uniknya kebanyakan tradisi Ararem dilakukan dengan membawa dan mengibar-ngibarkan bendera merah putih, tak banyak referensi yang dapat menjelaskan mengapa dalam tradisi ini bendera tersebut digunakan. Keunikan tradisi di Papua oleh suku Biak dalam mengantar mas kawin dengan arak-arakan, serta membawa bendera negara tersebut, kemungkinan besar hanya satu-satunya di Indonesia dan tidak dilakukan oleh suku lain di luar Papua.4. Tradisi TatoSelama ini orang hanya mengira bahwa tradisi tato di Indonesia, hanya dilakukan oleh suku Dayak di Kalimantan. Akan tetapi di Papua ternyata terdapat tradisi merajah tubuh, yang telah berjalan turun temurun. Beberapa suku yang biasanya menghiasi tubuhnya dengan tato adalah suku Moi dan Meyakh di daerah Papua Barat. Motif tato yang dibubuhkan pada tubuh suku-suku di Papua memiliki perbedaan dan ciri tertentu, umumnya tato tersebut memiliki motif geometris atau garis-garis melingkar serta titik-titik berbentuk segitiga kerucut, atau tridiagonal yang dibariskan. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan tato di Papua pun memiliki keunikan, diantaranya adalah menggunakan duri pohon sagu atau tulang ikan, dan mencelupkanannya kedalam campuran arang halus dan getah pohon langsat. Umumnya tato dilakukan pada bagian dada, pipi, kelopak mata, betis, pinggul, punggung dan juga di bagian tangan.Sistem KepercayaanSebagian masyarakat Papua masih memiliki kepercayaan totemisme, sebagai bentuk kepercayaan yang memandang asal-usul manusia berasal dari dewa-dewa nenek moyang, dan masih ada suku suku yang tertutup atau tidak mau berhubungan dengan dunia luar. Namun beberapa masyarakat Papua sudah memiliki dan memeluk agamanya yang resmi dari Indonesia.

sumber : http://citradarmayanti.blogspot.com

Tradisi Mengunyah Pinang

Masyarakat Papua memiliki budaya yang begitu kaya. Berbicara tentang budaya, tentu tidak lepas dari tradisi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu tradisi yang masih melekat di masyarakat Papua hingga saat ini adalah tradisi mengunyah buah Pinang.

Masyarakat Papua gemar mengunyah Pinang karena Pinang menguatkan gigi dan gusi. Tidak hanya itu, mereka menikmati buah Pinang karena sensasi tersendiri dari rasanya. Kombinasi manis keasaman seperti rasa pasta gigi inilah yang menjadi sensasi mengunyah pinang. Bahkan, beberapa masyarakat mengatakan bahwa tidak ada makanan atau bumbu lain yang rasanya menandingi buah Pinang. Mereka menganggap buah Pinang seperti candu, karena bila mereka tidak mengunyahnya, seperti ada yang kurang dalam hidup mereka. Walaupun demikian, Pinang sama sekali tidak mengandung zat adiktif yang berbahaya.

Umumnya, buah Pinang dinikmati dengan menggunakan tepung kapur yang diolah dari cangkang kerang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi rasa asam dan pahit dari getah pinang. Perpaduan ini membuat sensasi mengunyah buah Pinang semakin nikmat. Selain itu, batang sirih pun dipakai untuk menjadi penetral getirnya getah pinang saat dikunyah.

Saat mengunyah buah Pinang, ada beberapa ritual kecil yang biasa dilalui. Awalnya, buah pinang dikupas dengan menggunakan gigi. Kemudian, isi buah ini dikunyah hingga hancur. Umumnya, buah pinang yang baik akan menghasilkan cairan kental saat dikunyah, sedangkan yang kurang baik akan menghasilkan cairan yang lebih cair. Setelah itu, batang sirih dicelupkan pada bubuk kapur dan dikunyah bersama dengan pinang. Hasil dari kombinasi ini adalah cairan kental berwarna merah yang biasanya diludahkan ke tanah oleh para pengunyah pinang. Konon, hasil sisa kunyahan pinang ini dapat menyuburkan tanah atau tanaman karena masih tergolong sampah organik.

Tradisi menguyah buah Pinang umumnya dilakukan oleh kaum wanita yang sudah berumur lanjut. Namun, di Papua tradisi ini dilakukan sejak kecil dan diwariskan turun temurun dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Bahkan, tradisi ini sudah dikenalkan sejak umur tujuh tahun dan terus berlangsung hingga seseorang tua dan meninggal. Tidak heran, banyak kaum tua di atas 80 tahun yang giginya masih utuh dan tergolong sehat karena tradisi ini. Hingga kini, masyarakat yang mengunyah buah Pinang dapat kita temui baik di kota besar maupun desa-desa kecil.

Buah pinang beserta pelengkapnya banyak dijual di pinggir-pinggir jalan kota besar di Papua. Umumnya satu paket buah pinang, kapur dan batang sirih dijual seharga Rp 10.000 per plastik, biasanya berisi 10 hingga 15 buah, tergantung ukurannya. Namun, bagi masyarakat asli Papua, paket ini dapat habis sekali pakai. Rata-rata seorang pengunyah pinang dapat menghabiskan 5 hingga 10 paket sehari untuk menikmati tradisi yang belum dan tidak akan pernah hilang ini.

sumber : indonesiakaya.com

Fakta yang Ada di Kota Sorong

Dalam tulisan ini, saya akan sedikit membahas kota SORONG. Kota ini terletek di Propinsi Papua Barat, kota yang dalam masa pengembangan ini memiliki beberapa fakta diantaranya adalah :

1.    Dunia Pendidikan

Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan sangatlah penting, terutama untuk generasi muda. Sebab generasi mudalah yang akan menentukan bagaimana bangsa ini dimasa yang akan datang. Namun sayang, seperti halnya kota-kota lain dunia pendidikan di kota ini masih sangat memprihatinkan, banyak anak-anak yang belum dapat merasakan manisnya dunia pendidikan. Keterbatasan orang tua dalam biaya adalah faktor utama ditambah lagi dengan mahalnya pendidikan yang ada. TK, SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA dari semua tingkatan ini tak sedikit yang menghabiskan biaya hingga puluhan jutah tiap tahunnya. Mahal memang karena sorong terkenal dengan kebutuhan  biaya hidup yang tinggi, maka tak heran jika banyak anak-anak yang tak dapat mengeyam bangku pendidikan. Semoga pemerintah dapat mengatasi masalah ini sebagai upaya dalam mencerdaskan anak bangsa.

2.    Kebersihan

Kebersihan merupakan pangkal kesehatan, jika lingkungan bersih maka hidup pun akan nyaman. Kebersihan juga merupakan ciri dari sebuah kota. Awal mula datang di kota ini, saya memiliki kesan kalau kota ini sangat kotor. Bagaimana tidak, bandara yang seharusnya menjadi pusat perhatian pemerintah dan masyarakat untuk dijaga kebersihannya karena merupakan tempat kedatangan para tourist dalam maupun luar negeri. Tapi pada kenyataannya, sampah dimana-mana ditambah lagi dengan ludah pinang oleh para buruh bagasi, staf atau karyawan bandara maupun masyarakat yang mengantar atau menjemput kelurga/ kerabat. Terlihat sangat kotor, namun untuk sekarang ini pemerintah telah memberi perhatian terhadap kebersihan kota. Telah banyak cleaning service laki-laki maupun perempuan yang terlihat membersihkan jalan-jalan maupun sarana dan prasarana yang ada dalam kota. Semoga pemerintah dapat meningkatkan kinerja mereka dalam melayani masyarakat, agar tercipta suasana yang aman, damai dan bersih.

3.    Sorong adalah Jakarta ke 2

Mau tau kenapa??? Karena kota ini berpenduduk sangat banyak, tak sejalan dengan luas wilayahnya. Maka tak heran jika kemacetan terjadi dimana-mana, traffic light yang tidak berfungsi secara maksimal ditambah lagi dengan banyaknya pengendara yang tidak taat aturan. Alhasil riuh suara klakson mobil ataupun motor terdengar dimana-mana. Membuat kota ini serasa kota Jakarta.

4.    Infrastruktur

Seperti yang saya sampaikan diawal bahwa Sorong adalah kota yang dalam masa pengembangan. Dalam pengembangan sebuah kota harus didukung dengan infrastruktur yang ada. Pada kenyataannya semua itu tak sejalan dengan apa yang ada dilingkungan sekitar, contonya terminal. Terminal di kota ini tak terurus, pasarnya pun sepertipun demikian juga. Bahkan jika hujan turun, tak jarang pasar akan kebanjiran, jadila para pedagang orang yang sangat sibuk karena harus menyelamatkan barang dagangan mereka. Padahal pasar dan terminal ini berada di pusat kota bahkan berdekatan dengan kantor wali kota,namun PEMKOT kurang perhatian terhadap masalah ini. Disisi lain, perbaikan infrastruktur yang lebih menonjol adalah perbaikan jalan. Memang sih, perbaikan jalan adalah yang utama namun ada baiknya jika diikuti dengan perbaikan infrastruktur lainnya, agar masyarakat dapat menikmati semua fasilitas yang ada dengan nyaman.

5.    Kangkung yang selalu Mahal

Tau sayur kangkung kan??? Sayur ini dapat kita temui dimana saja termaksud di sorong. Anehnya walaupun sayur ini sangat mudah ditemui di pasar, tapi harganya tetap saja mahal. Seikat kecil dihargai dengan Rp. 5.000 – 10.000 (ketehuan deh kalau sering ke pasar)  padahal gak butuh biaya transportasi yang banyak untuk sampai di pasar, hanya sekitar Rp. 4.000 – 8.000 saja untuk sekali naik taksi. Umumnya barang yang banyak di pasar dengan jenis yang sama, maka harganya akan sedikit murah. Tapi sayur kangkung di sorong beda, banyak atau tidak harga tetap saja mahal.

6.    Angkot adalah Taksi

Bingung kan,,, kok angkot adalah taksi??? Itulah yang saya rasakan ketika pertama kali datang ke kota ini. Taksi identik dengan kursi empuk, AC dan argo, namun gambaran itu ternyata berbeda jauh atau berbanding terbalik. Di sorong taksi yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah “ANGKOT (Angkutan Kota)”. Tidak ada kursi empuk ataupun AC, yang ada hanya debu ditambah dengan polusi dari kendaraan lain ataupun angkot itu sendiri. Ya masyarakat sorong menyebut Angkot dengan sebutan Taksi. Ternyata sebutan taksi untuk angkot memiliki alasan tersendiri. Umumnya posisi duduk penumpang dalam angkot itu berhadap-hadapan, sedangkan angkot di kota ini posisi duduk penumpang sama dengan posisi duduk dalam taksi. Itulah mengapa angkot memiliki sebutan taksi.

7.    Sorong adalah Surga Dunia

Tau kenapa sorong adalah surga dunia??? Karena sorong memiliki pulau yang sangat indah yaitu Raja Ampat. Ya Raja Ampat adalah sebuah kabupaten yang ada di kota sorong, Raja Ampat adalah gugusan pulau-pulau yang sangat indah. Raja Ampat pun sangat terkenal dimanca Negara karena keindahan biota lautnya. Itulah mengapa Raja Ampat mendapat sebutan “The most beautiful island in the world”.

Itulah sedikit gambaran tentang kota sorong, semoga catatan ini dapat memberi sedikit informasi bagi pembaca sekalian.

sumber:kompasiana.com

6 Fakta tak terduga mumi di Papua ini jarang diketahui orang, apa ya?

Kamu nggak perlu jauh-jauh lagi pergi ke Mesir jika ingin melihat mumi.

Kalau kamu berpikir mumi itu cuma ada di Mesir, salah besar. Ternyata, mumi juga ada di Wamena, Papua yang diperkirakan umurnya mencapai ratusan tahun. Bedanya dengan mumi pada umumnya yang ada di dalam peti dan dibalut kain perban, di Wamena bentuk muminya masih utuh mayat yang berwarna hitam.

1. Terdapat 6 mumi di Wamena, Papua

Di Wamena ada 6 mumi, terdapat di Distrik Krulu dan Distrik Asolagaima. Berbeda dengan mumi pada umunya, mumi di Papua ini tidak disimpan di museum atau peti mati, melainkan ditaruh di rumah honai dan sangat di sakralkan. Rumah honai merupakan rumah adat Suku Dani yang menempati wilayah Wamena.

2. Umur mumi 300 tahun

Diperkiraan, umur dari mumi-mumi tersebut mencapai ratusan  tahun. Bahkan di Suku Dani usia mumi ada yang mencapai 300 tahun.

3. Mumi dianggap dewa oleh masyarakat Papua

Menurut salah satu warga Papua, Adi Chandra, mumi-mumi di sana disakralkan dan diagung-agungkan karena dipercaya membawa keberkahan. “Masyarakat Papua tetap percaya Tuhan, namun mereka sangat menghormati adat budaya leluhur mereka,” ujarnya

4. Mumi Papua posisinya duduk

Kebanyakan mumi yang kamu tahu posisinya terlentang dan berada di dalam peti. Namun di Papua, kamu tidak akan menemukan mumi yang seperti itu, melainkan posisinya duduk dengan mulut ternganga. Kedua tangannya memegang masing-masing kedua lututnya.

“Masyarakat Papua selalu melakukan ritual dengan meracik bahan-bahan tradisonal untuk mengawetkan semua mumi di sana,” tambahnya.

5. Mumi dipercaya menjadi keberkahan

Mumi Papua ini merupakan kepala suku dan panglima perang saat masa penjajahan dulu. Sebelum meninggal ternyata para panglima perang ini berpesan kepada masyarakat di tempat tinggalnya untuk diawetkan menjadi mumi.

6. Sekali jepret, biayanya capai Rp 1 juta

Mumi menjadi salah satu ‘penghasilan’ masyarakat di Papua. Sebab, wisatawan yang mau memotret harus ngerogoh kocek dalam-dalam.-“Kalau mau foto sama mumi biasanya di tarif sesuai rombongan. Kalau rombongan ramai bisa dikenakan hingga Rp 2,5 juta, tapi kalau berdua atau sendiri paling kena tarif Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta,” jelas Adi.-Nah, bagaimana menurut kamu, apa kamu tertarik untuk berfoto dengan Mumi Papua?

Festival Noken Tarik Minat Generasi Muda Papua

sumber : kumparan.com

Jayapura, BUMIPAPUA.COM – Festival Noken ke-6 yang digelar mulai hari ini juga menarik perhatian generasi muda Papua. Ketua Asosiasi Perfilman Kota Jayapura sekaligus Ketua Harian Generasi Pesona Indonesia (Genpi Papua) Henry Muabuay mengatakan, Festival Noken ini menjadi salah satu ajang untuk memperkenalkan budaya asli Papua pada generasi muda.

Festival Noken ini sebagai salah satu wadah memperkenalkan Noken kepada masyarakat luas. Kegiatan ini menyasar masyarakat dan wisatawan untuk datang menikmati berbagai gelaran atraksi budaya dan eksebisi khas masyarakat Papua. Harapannya, warga bisa memahami bahwa Noken tak sekadar aksesoris sebagai tas khas Papua, tapi juga identitas asli masyarakat Papua.

Seperti diketahui, UNESCO sudah mengakui Noken sebagai warisan budaya tak benda sejak 4 Desember 2012 silam. Pengakuan ini sekaligus menjadi titik balik kekayaan intelektual Papua. Sebab, Noken dimiliki oleh sekitar 250 suku bangsa yang ada di Papua dan Papua Barat.

“Kami tahu Noken yang merupakan tas rajutan khas itu budaya asli Papua. Meski memang sempat alot, tapi kami bersyukur festival ini bisa digelar dengan lancar. Ini juga bisa menjadi ajang untuk lebih mengenal budaya Papua asli,” kata Henry, Selasa (4/12).

Festival ini menarik perhatian beberapa komunitas di Papua seperti Pilot Drone, Asosiasi Perfilman Papua dan Komunitas Diving. Keterlibatan mereka semua secara sukarela yang diiringi dengan keinginan mempromosikan kebudayaan khas Papua. “Semua komunitas yang terlibat ini secara sukarela karena kecintaan pada budaya Papua dan keinginan untuk melestarikan adat istiadat,” ujarnya.

Festival Noken ke-6 ini akan digelar selama dua hari, yakni 4-5 Desember 2018. Dalam dua hari ini, berbagai kegiatan akan digelar, mulai dari pentas kesenian, eksebisi, nonton film, serta atraksi pembuatan Noken.

Noken, Butuh Bantuan Pemerintah

Ketua Asosiasi Pengrajin Noken Papua, Mama Mery mengatakan, Festival Noken ini menjadi salah satu ajang bagi para perajin untuk mempromosikan Noken khas Papua.

Dalam festival ini masyarakat bisa mendapatkan berbagai jenis Noken dengan harga terjangkau.”Untuk Festival ini kita turunkan harga karena momen spesial. Biasanya Rp300 ribu jadi Rp200 ribu. Itu noken dari kulit kayu,” kata Mery.

Dalam kesempatan ini, Mery juga meminta agar pemerintah setempat lebih memperhatikan nasib pengrajin Noken. Menurutnya, sudah saatnya noken mendapat tempat yang sejajar dengan kerajinan khas daerah lain. Selama ini, ia melihat masih banyak perajin noken yang menjajakan jualan di pinggir jalan.

“Harapan saya ke depan ke pemerintah saya minta ada pasar yang layak. Mengingat Noken sudah diakui oleh Dunia jadi saatnya Pemerintah menjadikan ini juga sebagai objek wisata,” ujarnya.

Noken, Salah Satu Daya Tarik Papua

Kementerian Pariwisata memberi dukungan penuh pada penyelenggaraan Festival Noken ke-6 ini. Kasubdit IV Wilayah 3 Maluku-Papua Kementrian Pariwisata (Kemenpar), Budi Sarjono mengatakan, Festival Noken merupakan salah satu acara yang mampu menarik berbagai wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara.

“Kementerian pariwisata menyambut baik dan mendukung adanya festival noken ini. Tentu saja menjadi salah satu acara yang menarik dan unik. Kami harap tetap bisa dilaksanakan setiap tahun. Kami akan suporrt terus,” kata Budi saat ditemui di lokasi acara.

Dikatakan Budi, Noken merupakan salah satu kerajinan dan budaya khas yang harus terus dilestarikan. Menanggapi banyaknya perajin noken yang masih menjajakan dagangan di pinggir jalan, Budi mengaku akan mencoba berkomunikasi dengan pemerintah daerah agar memberikan dukungan penuh.

“Untuk itu akan kami coba komunikasikan dengan Pemerintah Daerah karena saat ini ada otonomi. Tapi kami pastikan terus mendukung kerajinan ini agar tetap menjadi identitas Papua,” ujarnya.

Meski begitu, Kemenpar juga berharap ada evaluasi terhadap penyelenggaraan Festival Noken ini. Ia juga berharap, semakin banyak perajin yang menciptakan inovasi pada kerajinan khas Papua, sehingga bisa menyesuaikan dengan kondisi pasar saat ini.